Monday, December 9, 2019

revisi makalah kepeimpinan

MAKALAH KEPEMIMPINAN
KEADAAN SOSIAL, EKONOMI, POLITIK KABUPATEN KERINCI









Dosen Pengampu :
Alva Beriansyah., S.IP., M.I.P.

Disusun Oleh :
Safrudi Soleh R (H1A117083)




PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2019





KATA PENGANTAR


Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Keadaan Sosial, Politik, Ekonomi Kabupaten Kerinci.”
Ucapan terima kasih sayai sampaikan kepada selaku dosen mata kuliah Kepemimpinan ini atas bimbingannya. Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dan bermakna sebagai pembelajaran bagi kita. Makalah  ini masih belum sempurna,namun demikian besar harapan kami semoga makalah ini dapat memberikan manfaat.. Apabila terdapat kekurangan dalam makalah ini, saran dan kritik yang membangun sangat  diharapkan.


Jambi, 05 Desember 2019


             Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan masalah 2
C.        Tujuan Penulisan 2
BAB II 3
PEMBAHASAN 3
A. Keadaan Ekonomi Kabupaten Kerinci 3
B. Kondisi Sosial Masyarakat Kabupaten Kerinci 4
    C.       Kondisi Politik Masyarakat Kabupaten Kerinci 6
PENUTUP ………………………………………………………………………………..….10
Kesimpulan…………………………………………………………….…………………..10
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………..…….11



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kerinci ditetapkan sebagai Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun 2011, pusat pemerintahan berpindah ke Siulak. Nama kerinci berasal dari bahasa Tamil yaitu Kurinji, yang merupakan nama bunga yang tumbuh di daerah pegunungan india selatan. Kerinci berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat, Pronvisi Bengkulu dan kabupaten Bungo dan Merangin. Populasi di Kerinci sebanyak 253.256 jiwa(2014).Kerinci merupakan kabupaten di Jambi sebagai penyumbang terbesar angka wisatawan di Provinsi Jambi.
Nama Kerinci berasal dari bahasa Tamil, yaitu nama bunga kurinji (Strobilanthes kunthiana) yang tumbuh di India Selatan pada ketinggian di atas 1800m yang mekarnya satu kali selama dua belas tahun. Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan. dapat dipastikan bahwa hubungan Kerinci dengan India telah terjalin sejak lama dan nama Kerinci sendiri diberikan oleh pedagang India Tamil
Bahasa Suku Kerinci termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia, Melayu Polinesia Barat, keluarga bahasa Melayu-Minangkabau. Berdasarkan bahasa dan adat-istiadat termasuk dalam kategori Melayu proto, dan paling dekat dengan Minangkabau Melayu deutro dan Jambi Melayu deutro. Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antar satu dusun dengan dusun lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Madya Sungai Penuh - setelah pemekaran wilayah tahun 2008. Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kerinci masuk ke dalam Karesidenan Jambi (1904-1921), kemudian berganti di bawah Karesidenan Sumatra's Westkust (1921-1942). Pada masa itu, Kerinci dijadikan wilayah setingkat onderafdeeling yang dinamakan Onderafdeeling Kerinci-Indrapura. Setelah kemerdekaan, status administratifnya dijadikan Kabupaten Pesisir Selatan-Kerinci. Sedangkan Kerinci sendiri, diberi status daerah administratif setingkat kewedanaan. Kewedanan Kerinci terbagi menjadi tiga Kecamatan yaitu:
- Kecamatan Kerinci Hulu terdiri dari Kemendapoan Danau Bento, Kemendapoan Natasari, Kemendapoan Siulak (Wilayah Adat tanah Sekudung) serta Kemendapoan Semurup,
- Kecamatan Kerinci tengah terdiri dari Kemendapoan Depati Tujuh, Kemendapoan Kemantan, Kemendapoan Rawang, Kemendapoan Sungai Tutung, Kemendapoan Limo Dusun, Kemendapoan Penawar, Kemendapoan Hiang,dan Kemendapoan Keliling danau,
- Kecamatan Kerinci Hilir terdiri dari kemendapoan seleman,Kemendapoan 3 Helai Kain, kemendapoan Lempur, dan Kemendapoan Lolo.
Pada tahun 1957, Provinsi Sumatra Tengah dipecah menjadi 3 provinsi:
- Sumatra Barat, meliputi daerah darek Minangkabau dan Rantau Pesisir
- Riau, meliputi wilayah Kesultanan Siak, Pelalawan, Rokan, Indragiri, Riau-Lingga, ditambah Rantau Hilir Minangkabau: Kampar dan Kuantan.
- Jambi, meliputi bekas wilayah Kesultanan Jambi ditambah Pecahan dari Kabupaten Pesisir Selatan -Kerinci: Kerinci.
Tahun 1970, Sistem Kemendapoan (setingkat kelurahan) yang telah dipakai sejak ratusan tahun lalu, dihapuskan. Istilah Dusun diganti menjadi desa.
B. Rumusan masalah
Dengan mengacu pada judul yaitu “Kondisi ekonomi, sosial , politik Kabupaten Kerinci ” dan latar belakang masalah, maka permasalahan yang akan diangkat adalah:
1. Bagaimana kondisi Perekonomian Masyarakat Kabupaten Kerinci?
2. Bagaimana Kondisi Sosial Masyarakat Kabupaten Kerinci?
3. Bagaimana Kondisi politik Kabupaten Kerinci?

C.Tujuan Penulisan
1. Mengetahui bagaimana Kondisi perekonomian yang ada di kabupaten Kerinci
2. Dapat memahami peran Kondisi sosial masyarakat yang ada pada kabupaten kerinci
3. Mengetahui persoalan politik masyarakat kabupaten kerinci






BAB II
PEMBAHASAN

A. Keadaan Ekonomi Kabupaten Kerinci
Keadaan ekonomi di Kabupaten Kerinci sedikit berbeda dari Kabupaten lain di Provinsi Jambi, Kerinci yang merupakan daerah dataran tinggi memiliki beberapa perbedaan, Penduduk suku Kerinci disamping berusaha dilapangan pertanian dengan menggarap lahan sawah dan perkebunan kopi dan casiavera serta pertanian holtikultura juga melakukan usaha kegiatan peternakan secara tradisional dengan mengusahakan peternakan kerbau,sapi(jawi),kuda kambing,biri biri,ayam,dan itik khas Kerinci. Khusus untuk ternak sapi dan kerbau disamping untuk di konsumsi dan dijual juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dan digunakan sebagai alat pembantu untuk kegiatan pertanian disawah,kedua jenis ternak ini digunakan untuk membajak lahan persawahan.
Sektor agrobisnis yang meliputi pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Hasil pertanian & perkebunan meliputi:. Sayur mayur: tomat, cabai, kubis, labu, wortel, sawi, kol, buncis, kacang panjang, mentimun, kentang, Padi, Tebu, Tanaman hias, Kayu-kayuan: Sengon, Jabon. Hasil perikanan & peternakan seperti, Daging & telur ayam kampung (Ayam Buras). Daging & telur ayam ras, Daging Sapi, Ikan Lele, Ikan Nila
perhitungan  selamaperiode  2000-2007  LQ  di  bawah dapat    kita    lihat    bahwa sektor lapangan usaha yang menjadi basis di Kabupaten Kerinci selama periode  2000 2007  adalah  sektor lapangan usaha Pertanian, Peternakan, Kehutanan &Perikanan,Listrik, Gas & Air Bersih, Pengangkutan & Komunikasi, Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan, dan Jasa-jasa. Hal ini sejalan dengan keadaan geografis Kabupaten Kerinci yang cocok dalam sektor pertanian.   Selain  itu objek pariwisata yang   banyak di Kabuoaten   kerinci  juga mempengaruhi keunggulan  sektor -sektor  dalam  perekonomian.  Pada  sektor  jasa-jasa dan  pengangkutan dan  komunikasi   menjadi  sektor  unggulan  di  Kabupaten  ini. Dikarenakan  kegiatan pertambangan  dikabupaten  ini  tidak  banyak membuat sektor pertambangan dan penggalian tidak menjadi sektor unggulan di Kabupaten ini.
             Serta ada dibidang Industri, Industri di Kabupaten Kerinci banyak bergerak dibidang pengolahan dan perdagangan hasil bumi seperti Industri teh, Industri makanan olahan (dodol kentang, keripik kentang, aneka camilan, dll), Industri minuman olahan (Teh Kulit Kayu Manis/Teh Kayu Manis, Minuman Herbal dari rempahan, (seperti: Sari Kunyit Sirih, Sari Kunyit Putih, Sari Jahe Merah, Sari Temulawak), sirup kayu manis, dll), Industri pemotongan & pengolahan kayu, dan Industri pengolahan daging ayam kampung. Kerinci yang dikenal sebagai tujuan wisata utama di Provinsi Jambi dan penyumbang terbesar APBD Provinsi Jambi, Gunung Kerinci dan Perkebunan teh Kayu Aro merupakan penyumbang wisatawan terbesar, dan ada beberapa wisata lainnya.
Sementara Sektor pertanian di Kabupaten Kerinci mempunyai peran yang Besar, terlihat pada kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Kerinci. Besarnya kontribusi sektor pertanian pada tahun 2011 sebesar 49,59 persen dan 2016 sebesar 48,14 Persen dan menempati urutan pertama dalam urutan kontribusi terhadap PDRB Kabuapten Kerinci. Berdasarkan hasil LQ selama 6 tahun terakhir (2011-2016), sektor pertanian menunjukan nilai rata-rata LQ yang sangat besar yaitu 2,01 Hal ini berarti sektor ini termasuk sektor basis. Nilai LQ yang lebih dari satu ini berarti sektor pertanian dapat memenuhi kebutuhan masyarakat daerah tersebut sehingga sektor ini berpotensi impor. Hasil penghitungan Shift Share sektor pertanian nilai komponen Mij sebesar -154.904,760 menunjukkan sektor ini merupakan sektor yang belum maju (tumbuh lambat) di tingkat Provinsi Jambi. Sedangkan nilai komponen Cij sebesar 54.047,60 berarti bahwa sektor pertanian mempunyai daya saing yang meningkat, karena pertumbuhannya lebih cepat dari pada Provinsi
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa sektor pertanian dapat digolongkan sebagai sektor unggulan karena sektor ini tergolong sektor maju dan tumbuh pesat, merupakan sektor basis dan memiliki daya saing (pertumbuhannya lebih cepat dibanding Provinsi).

B. Kondisi Sosial Masyarakat Kabupaten Kerinci
Penduduk kerinci yang menempati Kerinci saat ini adalah masyarakat asli Kerinci dan warga pendatang dari Sumatera barat, dapat dilihat dari percampuran antara adat melayu dengan adat minang atau percampuran kebudayaan yang membuat banyak dampak positif yang terdapat di Kerinci, seperti tradisi yang membuat warga masyarakat Kerinci memiliki tali kekeluargaan yang lebih erat di bandingkan daerah kabupaten di Jambi lainya.
           Masyarakat Kerinci juga mempunyai bahasa dan peradatan daerah tersendiri. Bahasa daerah masyarakat Kerinci adalah bahasa Kerinci yang merupakan bagian dari bahasa Melayu. Sebagai daerah terpencil bahasa Kerinci mempunyai dialek tersendiri. Dialek bahasa Kerinci berbeda sekali dengan dialek bahasa pada suku-suku lain di Sumatera. Hal ini menjadi karakteristik bahasa Kerinci yang tidak ditemui di daerah lainnya di Indonesia. Dialek Kerinci berbeda sebanyak jumlah desa (dusun asli, masyarakat persekutuan adat) yang ada dalam Kabupaten Kerinci, yang semuanya berjumlah lebih kurang 177 dialek (Gusti, 2003:13)
           Dengan bahasanya masyarakat di daearah Kerinci telah melahirkan kesusastraannya pula yang disebut kesusastraan Kerinci. Kesusastraan yang dimiliki masyarakat Kerinci merupakan warisan budaya hasil karya nenek moyang yang merupakan ungkapan-ungkapan yang terkandung dalam kesusastraan yang ada di tengah masyarakat Kerinci. Kesusastraan tersebut memiliki nilai artistik, keindahan, bersifat asli dan mencakup sisi-sisi peradaban masyarakat Kerinci. Kesusastraan Kerinci ada yang berupa sastra tulisan yang menggunakan aksara Incung dan aksara Arab Melayu, ada juga sastra lisan yang merupakan cerita rakyat Kerinci yang disampaikan oleh tukang cerita secara lisan kepada siapa saja, anak-anak atau orang dewasa dalam bahasa Kerinci.
Penduduk suku Kerinci disamping berusaha dilapangan pertanian dengan menggarap lahan sawah dan perkebunan kopi dan casiavera serta pertanian holtikultura juga melakukan usaha kegiatan peternakan secara tradisional dengan mengusahakan peternakan kerbau,sapi(jawi),kuda kambing,biri biri,ayam,dan itik khas Kerinci. Khusus untuk ternak sapi dan kerbau disamping untuk di konsumsi dan dijual juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dan digunakan sebagai alat pembantu untuk kegiatan pertanian disawah,kedua jenis ternak ini digunakan untuk membajak lahan persawahan.
Masyarakat di alam Kerinci sejak ratusan tahun telah memiliki pola tatanan kehidupan kemasyarakatan yang beradat.(Dr.H.Adirozal,M.Si Bupati Kerinci dan Budayawan: Kenduri sudah tuai Seleman Kecamatan Danau Kerinci Juli:2014).  Adat Kerinci telah ada sejak keberadaan suku bangsa Kerinci menghuni alam Kerinci, dan adat itu merupakan suatu norma hukum yang tumbuh dan berkembang seirama dengan dinamika gerakan masyarakat dengan kebutuhannya ,Adat itu mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia,kehidupan manusia dengan lingkungannya,dan bahkan juga mengatur kehidupan manusia dengan alam gaib.
Adat tumbuh sepanjang masa,tumbuh dan berkembang sesuai dengan aspirasi masyarakat adat pendukungnya, sesuai dengan pepatah adat mengatakan Adat atas tumbuh,Lembago atas tuang,melenting menuju buah, bakato menuju benar, sko dengan buatnyo, yang lahir dipandang nyato,yang bathin di imankan.
Contoh nyata perubahan adat ialah setelah masuknya agama Islam ke alam Kerinci, adaptasi adat dengan ajaran agama Islam secara menyeluruh adat berubah dengan sendirinya menjadi Adat Besendi Syara’- Syara’ yang Bersendi Kitabullah- yang merupakan perubahan dari adat yang bersendi patut, patut bersendi benar yang sejak berabad abad sebelum agama Islam masuk di pakai dan menjadi pedoman nenek moyang orang suku Kerinci.
Sejak berlakunya Adat yang Bersendi Syara”-Syara’yang Bersendi Kitabullah,maka adat Kerinci dibagi atas 4 (empat) yakni: Adat yang sebenar adat, Adat yang di adatkan, Adat yang teradat dan Adat istiadat. Adat yang sebenar adat dan adat yang di adatkan merupakan adat yang berbuhul mati,Sedangkan adat yang teradat dan adat Istiadat merupakan adat yang berbuhul sintak
Di dalam menyelesaikan berbagai persoalan antara anak kemenakan di dalam negeri hendaknya lebih mengedepankan pendekatan adat melalui prinsip berjenjang naik bertanggo turun,yaitu melalui lembaga atau dikenal juga dengan penyelesaian oleh tengganai,ninik mamak dan depati sebagaimana adat mengatakan negeri berajo, kampaw batua-tua, rumah ba tiang ba tangganai. Suku Kerinci adalah suku bangsa yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Jambi. Kabupaten ini terletak dekat perbatasan Provinsi Sumatra Barat. Secara Topografi Kabupaten Kerinci memiliki tanah berbukit dan berlembah dalam deretan Pegunungan Bukit Barisan dengan puncak tertinggi Gunung Kerinci. Suku Kerinci diperkirakan merupakan salah satu suku tertua yang mendiami Pulau Sumatra lebih tua dari Suku Inka di Amerika

C. Kondisi Politik Masyarakat Kabupaten Kerinci

Kerinci dipindahkan kedalam kekuasaan Keresidenan Sumatera Barat,setelah dimasukan kedalam Keresidenan Sumatera Barat pada tahun 1927.Kerinci pernah menyuarakan keinginannya agar kembali lagi kedalam Keresidenan Jambi,namun aspirasi rakyat Kerinci pada tahun 1927 itu tidak mendapat tanggapan dari pemerintahan Belanda yang menjajah Jambi saat itu. KetikaKetika rakyat Riau dan Jambi mengajukan otonomi daerah tingkat I, rakyat Kerinci kembali menyampaikan keinginannya bersatu dalam Propinsi Jambi (PidatoProf.Idris Jakfar,SH:Sekitar Perjuangan Otonomi Daerah Tingkat II Kabupaten Kerinci: Diterbitkan oleh Pemda Tingkat II Kabupaten Kerinci 10-11-1989). Alasan dan pertimbangan yang mendorong rakyat Kerinci untuk bergabung dengan Propinsi Jamb i antara lain:
a. Daerah Kerinci,seluruh Kerinci Rendah dan sebagian Daerah Kerinci Tinggi berada dalam Satu kesatuan dengan Keresidenan Jambi.Dengan demikian maka daerah Kerinci sekarang yang pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan yang lainnya,menjadi terpisah dari kesatuan Luak nan XVI dan Kerinci Rendah;
b. Secara historis pada masa lalu Kerinci mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Jambi persahabatan tersebut terjalin baik antara Depati Empat Alam Kerinci dengan Kesultanan Jambi;
c. Daerah Keresidenan Sumatera Barat mempunyai wilayah yang sangat luas,hal ini telah menyebab kan daerah kecil dan terisolir yang dinaunginya seperti daerah Kerinci menjadi kurang mendapat perhatian;
d. Sehubungan dengan poin 3 diatas, maka bila daerah Kerinci berada dalam Propinsi yang relatif kecil wilayahnya, diharapkan gerak pembangunan dapat berjalan relatif lebih cepat dan aspirasi rakyat akan mudah disalurkan.xxv
Posisi Kerinci secara geografis dan pengaruh sejarah politik Kerinci di Provinsi Jambi di atas, memberikan pengaruh terhadap pilihan politik warga kerinci, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kondisi Politik masyarakat Kerinci pada jaman dahulu memiliki tradisi pemerintahan yang sangat baik dan tertata, Satu kelompok masyarakat di dalam satu kesatuan dusun dipimpin oleh kepala dusun, yang juga berfungsi sebagai Kepala Adat atau Tetua Adat. Adat istiadat masyarakat dusun dibina oleh para pemimpin disebut dengan Sko yang Tigo Takah, terdiri dari Sko Depati, Sko Pemangku dan Sko Permenti Ninik Mamak. Depati merupakan jabatan tertinggi dibawahnya adalah Pemangku yang merupakan Tangan kanan dari Depati, Di bawah Pemangku ada Permenti Ninik Mamak (Rio, Datuk, Ngebi) merupakan gelar adat yang mempunyai kekuatan dalam segala masalah kehidupan masyarakat adat.Wilayah Depati Ninik Mamak disebut ‘ajun arah’. Struktur pemerintahan Kedepatian di Alam Kerinci disebut dengan Pemerintahan Depati Empat Diatas dan Tiga dibaruh, Pemangku Lima, Delapan Helai Kain

Hubungan Kekerabatan
Masyarakat Kerinci menarik garis keturunan secara matrilineal, artinya seorang yang dilahirkan menurut garis ibu menurut suku ibu. Suami harus tunduk dan taat pada tenganai rumah, yaitu saudara laki-laki dari istrinya. Dalam masyarakat Kerinci perkawinan dilaksanakan menurut adat istiadat yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam.
Hubungan kekerabatan di Kerinci mempunyai rasa kekeluargaan yang mendalam. Rasa sosial, tolong-menolong, kegotongroyongan tetap tertanam dalam jiwa masyarakat Kerinci. Antara satu keluarga dengan keluarga lainnya ada rasa kebersamaan dan keakraban. Ini ditandai dengan adanya panggilan-panggilan pasa saudara-saudara dengan nama panggilan yang khas. Karenanya keluarga atau antar keluarga sangat peka terhadap lingkungan atau keluarga lain. Antara orang tua dengan anak, saudara-saudara perempuan seibu, begitupun saudara-saudara laki-laki merupakan hubungan yang potensial dalam menggerakkan suatu kegiatan tertentu.


Hubungan Kemasyarakatan

Struktur kesatuan masyarakat Kerinci dari besar sampai yang kecil, yaitu kemendapoan, dusun, kalbu, perut, pintu dan sikat. Dalam musyawarah adat mempunyai tingkatan musyawarah adat, pertimbangan dan hukum adat, berjenjang naik, bertangga turun, menurut sko yang tiga takah, yaitu sko Tengganai, sko Ninik Mamak dan sko Depati.

Perbedaan kelas dalam masyarakat Kerinci tidak begitu menyolok. Stratifikasi sosial masyarakat Kerinci hanya berlaku dalam kesatuan dusun atau antara dusun pecahan dusun induk. Kesatuan ulayat negeri atau dusun disebut parit bersudut empat. Segala masalah yang terjadi baik masalah warisan, kriminal, tanah dan sebagainya selalu disesuaikan menurut hukum adat yang berlaku.

Di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, keterlibatan langsung warga dalam setiap pemilihan politik telah membawa perubahan besar. Tidak saja bagi meningkatnya partisipasi warga secara langsung dalam politik, namun juga beberapa ekses negatif terhadap prilaku memilih warga. Di antara yang paling menonjol adalah pola pilihan yang sangat dipengaruhi oleh unsur primordialisme dan penggunaan uang sebagai imbalan dalam pemilihan. Prilaku politik warga dalam melakukan pilihan seperti yang tersebut di atas, alih-alih mendukung berkembangnya demokrasi ke arah yang lebih baik, justeru menghancurkan nilai-nilai yang ingin dicapai oleh demokrasi. Sehingga perlu upaya yang cukup serius untuk mengantisipasi berkembangnya prilaku politik yang telah berkembangan, paling tidak sejak proses pemilihan langsung, tahun 2004, dimulai. Namun, di tengah-tengah masalah yang ditemui di atas, tetap ada peluang bagi pihak yang ingin memperbaiki kualitas prilaku memilih warga. Responden meyakini bahwa himbauan para tokoh masyarakat di masing-masing daerah tetap bisa memberi pengaruh positif bagi prilaku memilih warga. Bahkan, media komunikasi melalui tempat-tempat ibadah dan acara-acara keagamaan dianggap efektif untuk memperbaiki prilaku memilih warga di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
Dari penelitian pada era reformasi kelihatan ada upaya yang sangat kuat dari masing-masing tokoh masyarakat daerah untuk mendapatkan pemimpin dari lingkungan sosial dan etnik mereka sendiri.Upaya untuk mengembalikan identitas etnik terlihat jelas di beberapa daerah, misalnya muncul lagi beberapa tokoh yang diakui/ mengaku sebagai keturuan raja atau sultan pada beberapa daerah. Hal ini juga berlaku dalam pemilihan umum yang memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD. Nilai-nilai primordialisme muncul dan terlihat begitu nyata dalam proses politik yang berlangsung sepanjang masa reformasi sampai hari ini. Dalam Perspektif Pierre Felix Bourdie, sosiolog Prancis, menyebutkan bahwa setiap kelompok, dalam hal ini etnik, pasti memiliki upaya untuk mempertahankan kepentingan sendiri dengan berbagai cara.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik  tentang Kondisi Kabupaten Kerinci baik dari segi sosial, ekonomi, dan politik dapat disimpulkan bahwa kabupaten Kerinci merupakan suatu daerah yang memiliki potensi alam dan juga menjunjung tingi kebudayaan, dan memiliki tali kekeluargaan yang kuat. Kondisi Politik di kabupaten Kerinci yang dimana sudah memiliki tatanan dari zaman penjajahan Belanda, menyebabkan kabupaten Kerinci mempuyai kondisi Politik yang kuat dan masyarakat cukup peka akan hal ini.
       Jadi, dapat disimpulkan dari keadaan sosial, ekonomi dan politk kabupaten Kerinci bahwa tipe kepemimpinan yang cocok adalah tipe kepemimpinan yang Partisipatif yang merupakan orang asli Kerinci dan mengenal kondisi Kerinci secara sosial, ekonomi dan politik agar dapat berperan aktif dan menyemimbangkan peran-peran dan melibatkan semua masyarakat Kerinci, tingginya asas kekeluargaan yang terdapat di Kerinci juga menjadi tolak ukur pemimpin agar dapat tetap melestarikan dan mengarahkan hal tersebut agar dapat berkembang dengan melibatkan semua stakeholder yang ada. Selain itu tentunya tipe kepemimpinan demokratis yang mana dalam hal ini lebih mengutamakan musyawarah antar pemangku kepentingan dengan masyarakat umum.











Daftar Pustaka

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kerinci
https://kerincitime.co.id/sistim-ekonomi-tradisional-rakyat-suku-kerinci-olehbudhi-vrihaspathi-jauhari.html
wulandari, sovia wulan, & hadiyanto, hadiyanto. (2018). UNGKAPAN TRADISIONAL MASYARAKAT KERINCI: KAJIAN BENTUK DAN TELAAH MAKNA. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora , 2 (02), 229 -. https://doi.org/10.22437/titian.v2i02.5802
Irzal amin,syahrul r , ermanto.  (2013). CERITA RAKYAT PENAMAAN DESA DI KERINCI : KATEGORI & FUNGSI SOSIAL TEKS. Jurnal bahasa dan sastra indonesia vol 1 . http://ejournal.unp.ac.id/index.php/bsp/article/view/4976
https://www.academia.edu/29873990/Bab_03_SEJARAH_KEB_ALAM_KERINCI_01sistem_pemukiman_kekerabatan_dan_sistem_ekonomi_tradisional_suku_kerinci.

S Hodijah. (2014). IDENTIFIKASI PEREKONOMIAN KABUPATEN KERINCI.         Jurnal_paradigma_ekonomika. https://onlinejournal.unja.ac.id/paradigma/article/view/2204/1545

Monday, September 2, 2019

Defenisi Kepemimpinan

1). George R.Terry (dikutip dari Sutarto,1998:17)
  Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri seseorang atau pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2). Kartini Kartono (1994:48)
    Kepemimpinan itu sifatnya spesifik, khas, diperlukan bagi satu situasi khusus. sebab dalam suatu kelompok yang melakukan kativitas-aktivitas tertentu, dan mempunyai suatu tujuan serta peralatan-peralatan yang khusus.
3). Ordway Tead (1929)
 Kepemimpinan sebagai perpaduan perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong pihak lain menyelesaikan tugasnya.
4). P. Pigors (1935)
    Kepemimpinan adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari perbedaan-perbedaan individu,  mengontrol, daya manusia dalam mengejar tujuan bersama.


   Secara umum pengertian kepemimpinan adalah siatu kekuatan yang menggerakkan peejuangan atau kegiatan untuk menuju sukses